BogorOne
Akurat dan Terpercaya

ESA Akan Terapkan Kebijakan Yang Strategis dan Utamakan Kearifan Lokal

0 59

BogorOne | Kota Bogor – Bakal Calon Wakil Walikota Bogor dari jalur Independen Sefwelly Ginanjar Djoyodiningrat yang akan mendampingi Edgar Suratman di Pilwalkot 2018, mulai melakukan pendekatan dengan warga.

Hal itu dilakukan untuk memaparkan visi misi serta program-programnya yang dipersiapakan sebagai solusi untuk masyarakat dan pembangunan Kota Bogor yang lebih baik.

Pasangan calon perseorangan Edgar Suratman dan Sefwelly Ginanjar Djoyodiningrat yang disingkat (ESA) sudah memetakan program-programnya untuk membangun Kota Bogor kedepan, dengan tetap mengedepanka kearifan lokal.

Ditanya soal permasalahan di Kota Bogor, menurutnya persoalan di kota hujan sangat kompleks dan pemimpin harus berinovasi menciptakan kebijaka sebagai solusi.

“Insya allah, kami akan mengangkat kearifan lokal bukan hanya dari segi budayanya saja tapi juga tergahadap tarap ekonominya, dan program-program itu memang sejalan dengan Pak Edgar,” kata Sefwelly, Senin (11/12/17).

Dalam kebijakan mengatasi tarap ekonomi dan sosial warga, Ia berpendapat sah sah saja berkompetisi dalam berusaha. Tapi semua harus di atur, supaya perusahaan besar tidak mematikan ekonomi warga.

Sebagai contoh, dia menggambarkan peningkatan pembangunan, namun mengesampingkan tarap ekonomi dan sosial warga kecil.

ASS misalnya, perusahaan asal Australia yang menguasai pengelolaan parkir, ketika melihat sebuah kemacetan, mereka datang dan menawarkan pembangunan dengan syarat nanti pengelolaan parkirnya dia yang kelola.

“Ini kapitalis, mereka bicara dengan modal dolar cukup besar, sementara warga bicara rupiah saja sudah minder, maka persoalan ini lah yang harus dibuatkan solusinya,” ujarnya.

Lalu untuk persoalan PKL yang di trotoar secara aturan dan perundang-undangan adalah hak dan untuk pejalan kaki bukan untuk pedagang.

Namun lanjut dia, mereka tidak berdaya, karena terkendala di modal, misalnya mereka mau dagang maka mereka melakukan sistem konsinyasi.

Artinya ngambil barang dengan tarip stor ditentukan pemilik barang dan itu jadi beban, maka pedagang milih jalur altrtanatif yakni nyari lokasi dagang yang murah dan mudah yakni jadi PKL di trotoar.

“Karena mereka tidak lagi berpikir melanggar atau tidak, tetapi mereka hanya berpikir jualan di trotoar itu murah karena cukup bayar 40 ribu misalnya, meski itu pungli, dan yang paling penting dagangan terjual dan bisa setor lalu dapat untung,” jelas dia.

“Itu bisa dipecahkan persoalannya dengan mengalokasikan APBD dan merelokasi mereka ke tempat yang memang bisa menguntungkan mereka, bukan justru mematikan mereka. Dengan begutu yang di gusur troroarnya bukan pedagangnya,” ujar pria yang hobi bikers itu.

Ia menambahkan, kalau direnungi tentang pilosofi ngabogor bodas, ngabogor hejo dan ngabogor bulao yang dicanangkan Pak Edgar, itu artinya manusia harus kembali ke jatidirinya, kembali ke tuhan dan kembali ke alam.

Komentar
Loading...