BogorOne
Akurat dan Terpercaya

Istri Pilot Akan Gugat Dua Mantan Istri Suaminya

0 109

BogorOne | Kota Bogor – Tina Witiawati istri pilot sebuah maskapai penerbangan nasional Eko PS terus gigih meladeni permainan hukum dari mantan istri kedua Agung Dewi Wulansari dan mantan istri ketiga Sri Rahayu Kuswatiningsih alias Ayu Basir Nurdin.

Dalam perkara tersebut, Eko memenangkan gugatan atas harta gono gini bernilai miliaran rupiah, dan menuntut agar penjualan rumah di Perum Nuansa Batavia, di Alam Sutera Serpong Kota Tangerang Selatan yang harusnya uangnya dibagi dua dengan sang pilot namun tidak diberikan.

Sementara sang pilot telah digugat cerai oleh Sri Rahayu Kuswatiningsih yang populer dengan nama Ayu Basri Nurdin. Secara hukum agama, wanita yang meminta cerai tidak mendapat pembagian harta warisan namun dapat disepakati pembagian harta dapat dibagi dua antara suami-istri.

Namun, seiring berjalannya waktu Ayu panggilan Sri Rahayu Kuswatiningsih alias Ayu Basir Nurdin melakukan perlawanan, dengan menolak putusan PN Depok dengan melakukan banding hingga ke tingkat Mahkamah Agung (MA).

“Maka putusan PN Depok memutus mengikat para pihak artinya hasil penjualan rumah tersebut harus dibagi dua, tapi ini kan tidak dibagi yang nilainya bisa mencapai miliaran,” kata Tina yang kini menjadi istri keempat Eko Prasetyo Soetrisno.

Pilot maskapai penerbangan nasional ini sebelumnya telah menikah tiga kali, yang ketiganya berujung perceraian. Tambatan hati terakhir Eko kini ada di pelukan mantan karyawan Bank of America yang 16 tahun tinggal di Negeri Paman Sam, Tina Witiawati.

Sambil menunggu putusan MA atas perkara harta gono gini tersebut, Ayu diduga menggalang persekongkolan jahat dengan mantan istri kedua Eko Prasetyo Soetrisno, Agung Dewi Wulansari dengan menuntut hak anak bernama G dan A sepanjang 2002-2013 di Pengadilan Agama Cibinong. Hak anak itu senilai Rp 6juta per bulan yang kemudian dikalikan selama 11 tahun.

Kepada wartawan Dewi mengatakan dirinya hanya menuntut hak anak bukan perkara harta gonogini. “Saya kan menuntut hak anak saya yang juga anak biologis mantan suami saya Eko. Saya nggak menuntut yang sudah tapi yang belum dibayarkan. Sebulan 6 juta dikalikan 11 tahun, anda hitung saja sendiri berapa itu,” kata Dewi saat dijumpai usai mengikuti sidang di Pengadilan Agama Cibinong, beberapa waktu lalu.

Ini adalah sidang kedua perkara bantahan atas putusan eksekusi penetapan kedua yang materinya serupa, yakni menuntut hak nafkah anak. Meskipun di tahun tersebut Eko sudah menikah dengan Ayu Basir Nurdin.

“Seharusnya di tahun tersebut Dewi menuntut ke Ayu karena saat itu Pak Eko, suami saya sekarang adalah suami Ayu. Lho kok sekarang malah justru menuntut lagi ke Pak Eko. Lagipula gaji Pak Eko sudah setiap bulan sampai hari ini terus dipotong untuk menafkahi Galih dan Andrea. Dewi selalu ibunya Galih dan Andrea juga sudah menikah lagi dengan laki-laki lain,” tutur Tina kepada wartawan usai persidangan.

Tina juga mengaku heran bahwa kasus nafkah anak kini digugat lagi di PA Cibinong meskipun sebenarnya perkara ini sebelumnya sudah pernah dieksekusi oleh PA Tangerang karena locus perdatanya di Kota Tangsel.

“Penetapan pertama di Tangerang, putusan sudah dijalankan. Kini muncul lagi penetapan kedua di PA Cibinong perkara bantahan, bukan soal anak kandung dan ibu tiri, yang diminta ibu Dewi, adona. Ibu sudah menikah ya satu minta nafkah ke suami pertama. Mediasi minta hak bukan minta duit. Kalau mau minta hak ngga usah ribut di pengadilan kan bisa bicara baik-baik,” ujar Tina.

Tina juga meminta agar Ayu dan Dewi tidak bermain-main dengan hukum dengan melakukan berbagai dugaan tindak pidana.

“Saya akan gugat balik ke dua orang ini atas kasus pidana. Kami sudah punya buktinya dan kami tidak takut meskipun Ayu didukung oleh Anggota DPR,” lantang Ayu penuh emosi.

Sebelumnya ada pemberitaan yang menyebutkan bahwa perkara di PA Cibinong ada upaya membatasi pertemuan antara anak dan bapaknya. Tina membantah tegas pemberitaan itu.

Menurutnya, berita itu penggiringan opini yang tidak benar. Karena ia mengaku tidak pernah menghalangi Andrea bertemu dengan Pak Eko. 1000 persen itu tidak benar. Secara kebiasaan tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi anak ketemu bapaknya. Secara hukum, kecuali perintah pengadilan hanya keputusan hakim.

“Ini berita pembodohan dan pembohongan publik. Berita hoax. Secara pidana masuk kategori pencemaran nama baik dan dia harus buktikan secara hukum dan agama. Secara prinsip tidak ada yang dapat menghalangi anak ketemu bapaknya,” tegas Tina.

Komentar
Loading...