BogorOne
Akurat dan Terpercaya

Kebijakan Pemerintah Tekan Impor Semen di Apresiasi PT Indocement Tunggal Prakarsa (Tbk)

0 30

 

BogorOne.com | Jakarta – Kebijakan pemerintah yang menekan atau membatasi impor semen di apresiasi PT Indocement Tunggal Prakarsa (Tbk) Christian Kartawijaya.

Apresiasi itu di ungkapkan
Direktur Utama (Dirut) PT Indocement Tunggal Prakarsa (Tbk) Christian Kartawijaya dalam konferensi pers disela acara halal bihalal dan ramah tamah bersama para wartawan regional Bogor di Jakarta, Kamis (28/06/18) malam.

Menurut Christian, dengan adanya kebijakan pemerintah yang membatasi impor semen, maka membuat pabrikan semen dalam negeri mampu bertahan.

Christian menilai kebijakan pemerintah itu sangat baik dan menguntungkan, karena mampu mendorong pabrikan lokal untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang terus bertumbuh.

“Saya sangat apresiasi kebijakan pemerintah yang sampai saat ini tidak memberikan izin impor semen, karena kami memiliki banyak kapasitas,” kata Christian yang didampingi Direktur SDM dan CSR Indocement Antonius Marcos dan Direktur Komersial Troy Dartojo Soputro.

Diakui Christian kebijakan tersebut sangat positif khususnya bagi Indocement yang memiliki kapasitas produksi 24,5 juta ton, mampu berjualan semen sampai diangka sekitar 17,5 sampai 18 juta ton.

Masih kata dia, dengan kapasitas tersebut, masih ada tujuh sampai delapan juta ton lagi produksi yang menjadi suplai. Dan secara nasional pabrikan semen masih mempunyai 40 juta ton.

“Angka 40 juta ton itu total, bukan Indocement saja tapi pabrikan yang lain juga,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam kondisi tersebut, jika pembangunan Indonesia bertumbuh sekitar 10 persen setahun, makan hanya butuh enam juta ton semen. Sehingga 40 juta ton semen yang ada bisa dikonsumsi dalam beberapa tahun, minimal lima sampai enam tahun, kalau efek domino dari proyek pembangunan tersebut berjalan.

“Menurut saya ini yang penting, apresiasi kebijakan Kemendag dan Kemenperin untuk membantu pabrikan ini bisa berjalan. Saya berharap kedepan hal ini tetap konsisten dijalankan,” ujar Christian.

Saat disinggung, apakah pihaknya siap pabriknya siap mensuplay, dengan tegas ia menyatakan kesanggupannya karena telah memiliki kapasitas.

“Yang menjadi konsentrasi pabrikan semen sekarang ini adalah komponen biaya yang paling besar dalam memproduksi adalah batu bara untuk produksi semen, dan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk transportasi. Kami memakai batu bara kalori rendah, sehingga bisa sedikit efisien,” tuturnya.

Ia mengaku, komponen batubara dan BBM biayanya tengah naik tinggi, karena pabrik tidak menggunakan BBM bersubsidi. Harga saat ini naik dari 50 dolar per barel, menjadi 70 sampai 75 dolar per barel.

Dengan begitu, menurutnya naiknya cukup siginifikan, sejauh ini pihaknya juga memberhentikan tiga pabrik dan membuka satu pabrik baru dengan kapasitas besar.

“Di pabrik baru kami tidak merekrut karyawan, tetapi karyawan dari tiga pabrik bekerja dipabrik baru. Insya Allah nanti prrekrutan karyawan dilakukan bertahap, tidak langsung banyak,” tandasnya. (As)

Komentar
Loading...