BogorOne
Akurat dan Terpercaya

Miris!!! Ribuan Warga Derita ISPA Dinkes Terkesan Bungkam

0 226

BogorOne.com | Parung Panjang – Selain kerusakan lingkungan Eksplorasi tambang andesit juga menimbulkan banyaknya warga yang mebgalami penyakin pernapasan.

Untuk kerusakan lingkungan yang diakibatkan tambang Andesit bukan hanya terjadi di area pertambangan yakni Kecamatan Rumpin dan Cigudeg, tapi juga menjadi penyebab kerusakan jalur transportasi yang dilewati saat mengangkut hasil tambang yakni  wilayah Kecamatan Gunungsindur dan Parungpanjang.

Akibatnya, infrastruktur jalan dan kondisi lingkungan hidup menjadi rusak, ditambah dampak sebaran penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) oleh warga sekitar dan kecelakaan lalu lintas yang melibatkan truk tambang.

Tokoh masyarakat sekitar TB Ule Sulaeman mengatakan, kerusakan infrastruktur jalan menjadi hal klasik yang terus berulang tanpa ada solusinya. Begitupun masalah kesehatan warga masyarakat dan kecelakaan lalu lintas akibat truk tambang.

“Ini jelas merugikan masyarakat, padahal disitu ada CSR, dan kewajiban lainnya untuk kesejahteraan warga, tapi entahlah. Dalam hal ini, pemerintah juga terkesan tidak ada,” ujarnya, Rabu (25/07/18).

Ditempat berbeda Camat Parungpanjang Edi Mulyadi mengaku aspirasi dan laporan serta keluhan warga soal dampak negatif angkutan tambang juga sering disampaikan kepadanya.

Hal itu disampaikan Camat Parungpanjang Edi Mulyadi saat memberikan sambutan dalam sebuah giat reses anggota DPRD Kabupaten dari daerah pemilihan (Dapil) V di kantor kecamatan tersebut pada, Rabu 30 Agustus tahun lalu.

“Data yang saya terima dari Puskesmas, masyarakat Parungpanjang yang berobat perhari mencapai 300 sampai 350 orang. Hampir lebih 30 persen pasien mengeluhkan dan mengidap penyakit inspeksi saluran pernapasan akut (ISPA-red),” ujarnya.

Terkait intensitas dan mobilitas volume kendaraan truk tambang yang melintas di wilayah Parungpanjang, Camat mengungkapkan, data dari Dishub menunjukan bahwa setiap 24 jam, ada sekitar 3.100  unit kendaraan truk tambang yang berlalu lalang.

“Padahal kekuatan jalan hanya 18 ton, sedangkan kendaraan yang melintasi jalan ini beratnya 40 ton lebih. Akhirnya jalan cepat rusak dan menambah volume debu.” beber Edi Mulyadi dihadapan para wakil rakyat dari Dapil V dan komponen masyarakat Parungpanjang.

Sementara saat wartawan media ini mencoba mengkonfirmasi data terakhir terkait jumlah warga masyarakat Parungpanjang yang berobat ke Puskesmas dengan keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) melalui media sosial WhatsApp, Kepala UPTD Kesehatan (Puskesmas) Parungpanjang dr. Susi Juniar malah balik bertanya.

“Siang mas, untuk apa datanya ya?,” jawabnya singkat tanpa memberikan jawaban dari berbagai pertanyaan yang dikirimkan melalui chat pribadi tersebut.

Kesulitan dalam mencari data jumlah warga masyarakat yang menjadi penderita ISPA, juga dialami seorang wartawati media lokal ternama yang berusaha menemui Kepala UPTD Kesehatan (Puskesmas) Rumpin.

“Tadi saya ketemu kepala Puskesmas (Rumpin-red), tapi dia tidak mau diwawancarai, sudah waktunya pulang kata dia.” Ungkap wartawati tersebut.

Sedangkan data yang diperoleh dari berbagai sumber yang bisa dipercaya, menunjukan bahwa warga masyarakat yang berobat ke Puskesmas dengan keluhan ISPA di 3 (tiga) wilayah kecamatan yang menjadi area pertambangan dan jalur lintasan armada angkutan tambang, jumlahnya cukup banyak.

Dari data tersebut, pada tahun 2017 lalu angka pasien ISPA di Kecamatan Rumpin mencapai 3.767 orang dan pada tahun 2018 berjumlah 2.900 orang.

Sementara di Kecamatan Gunungsindur pada tahun 2017 ada 1.843 orang dan tahun 2018 ada 2.131 orang. Selanjutnya di Kecamatan Parungpanjang data menunjukan ada 1.347 orang pasien dan tahun 2018 ada 79 orang.

Dikonfirmasi kebenaran data ini, dr. Intan Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P3M) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dr Inten mengaku sedang berada diluar.

“Waduh saya lagi diluar mas. petugasnya yang pegang data lagi ke lokasi pesantren. Saya harus liat dulu. Nanti kalau sudah ada petugasnya, saya konfirm ya,”  Jawab dr. Intan melalui pesan media WhatsApp miliknya.

Namun hingga berita ini ditayangkan, tidak ada jawaban dan klarifikasi resmi dari para birokrasi pelayan masyarakat ini, terkait jumlah penderita ISPA di 3 wilayah kecamatan yang terdampak galian dan debu tambang tersebut. (Iwan Setiawan)

Komentar
Loading...