BogorOne
Akurat dan Terpercaya

MoU Taman Topi Selesai, 70 Karywan Terancam Nganggur

0 30

BogorOne.com | Kota Bogor – Sistem kerjasama melalui perjanjian build operate and transfer (BOT) Taman Topi dengan Pemkot Bogor yang berakhir Desember 2018 berdampak terhadap puluhan nasib karyawan yang selama ini menggantungkan hidupnya di tempat wisata yang menjadi Icon di Kota Hujan itu.

Kerjasama melalui sistem “Bangun Guna Serah” Taman Topi yang dikelola PT.Eksotika itu selama 30 tahun, sejak dibangun pada 1988 lalu. Dan mulai Desember akan diambil alih Pemkot Bogor serta kedepan akan dijadikan ruang terbuka hijau (rth) atau taman kota.

Humas Tempat Wisata Taman Topi Basiran mengatakan, setelah masa kontrak kerjasama selesai, pihaknya akan menyerahkan semua bangunan yang selama ini dikelolanya.

Dalam mengelola tempat wisata yang berada di jantung Kota Bogor itu, pihaknya memperkerjakan sediikitnya 70 karyawan, 37 diantaranya pegawai tetap dan sisanya sekitar 33 pekerja kontrak yang aktif pada waktu libur atau Sabtu – Minggu saat kunjungan  meningkat.

Basiran mengatakan, seiring dengan berakhirnya masa pengelolaan Taman Topi, pihaknya memberikan beberapa opsi supaya karyawannya tetap bisa bekerja.

“Ya, karyawan ini sudah lama bekerja disini, 37 orang statusnya pegawai tetap. Dengan berakhirnya masa pengelolaan Taman Topi saya berikan tawaran, mereka bisa bekerja di cabang seperti tempat wisata pemandian air panas Ciseeng atau di Taman Kecubung Puncak,” kata Basiran kemarin.

Tapi lanjut dia, para karyawan belum ada yang memberi jawaban. Masih kata Basiran, bagi karyawan yang ingin tetap bisa ikut kerja di tempat wisata cabang dari Taman Topi sendiri yang dikelola PT.Eksotika, tapi bagi yang tidak mau maka akan diberikan pesangon sesuai masa karyawan bekerja.

Selama beroprasional tempat wisata yang berdiri dilahan seluas
18.155 meter persegi itu memberikan kontribusi cukup besar ke Pemkot Bogor. Karena pajak tempat wisata Taman Topi mencapai Rp 800-1,5 miliar dalam setahun.

“Kalau kontribusi lainnya, yalni retribusi kami menyetor sekitar Rp 150 juta per tahun untuk bagian depan aja atau dari tiket masuk.  karena dalan penyetoran retribusi itu terbagi dua, sebab di bagian belakang tergantung hasil penjualan tiket berbagai wahana yang disediakan,” ujarnya.

Masih kata Basiran, yang diserahkan ke Pemkot Bogor merupakan bangunannya saja, karena kalau alat-alat mainan pihaknya juga kerjasama dengan pihak ke tiga.

Disinggung soal solusi para karyawan dari Pemkot Bogor, ia mengaku belum ada solusi yang ditawarkan untuk keberlangsungan hidup para karyawannya, karena Wali Kota Bogor Bima Arya baru sebatas minta data karyawan, tetapi belum menjanjikan pekerjakan apa yang nanti akan diberikan mantan karyawannya.

“Ya kemarin Pak Wali baru minta data-data karyawan saja,” tandasnya. (Asy)

Komentar
Loading...