BogorOne
Akurat dan Terpercaya

Soal Siswi SMK Yang Tak Naik Kelas, Pihak Sekolah Pastikan Bukan Faktor Biaya

0 74

BogorOne.com | Kota Bogor – Menyikapi ramainya pemberitaan soal siswanya yang tidak naik kelas karena terkendala faktor ekonomi, pihak SMK Kesehatan Telekomedika angkat bicara.

Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SMK Kesehatan Telekomedika Dedi Eko yang didampingi guru Dwi Arsywendo mengatakan, berdasarkan aturan dari Disdik provinsi Jawa Barat, nilai yang kurang dari KKM itu tidak boleh lebih dari tiga.

Dan menurutnya, standarisasi yang lain juga hampir sama seperti kehadiran dan sebagainya yang tidak boleh dilewati.

Terkait siswa berinial FF kata dia, tidak naik kelas bukan sama sekali karena tidak punya biaya tetapi karena nilainya yang tidak memenuhi persyaratan untuk naik kelas.

Dalam memberikan penilaian ia memberikan contoh dalam kedisiplinan daftar hadir. Misalnya dalam daftar kehadiran, maksimal alfa itu 12 kali dalam setahun, tapi siswa tersebut alfanya mencapai 16 kali dalam satu smester.

Lalu lanjut dia, sampai dengan hari penetapan kenaikan kelas, pihaknya melakukan rapat verifikasi kenaikan kelas dan FF belum mengikuti ulangan akhir semester atau ulangan kenaikan kelas.

Untuk itu, bagi para siswa yang belum mengikuti UAS pihak sekolah memberikan kesempatan mengikuti ujian susulan. Karena pihak sekolah juga dikejar waktu untuk memverifikasi nilai akhir siswa-siswi.

“Namun, sampai hari penetapan verifikasi itu, ternyata siswi yang bersangkutan masih belum melakukan ulangan akhir semester. Dan kami tegaskan naik atau tidaknya siswa ini tidak didasari atas dari segi ekonomi orang tua,” tegasnya.

“Jadi sedikit atau banyaknya bahkan tidak ada tunggakan, jika memang harus naik kelas pasti akan naik, tetapi jika tidak naik karena ada permasalah yaa tidak naik meskipun tidak memiliki tunggakan,” tambahnya.

Dedi menyesalkan, adanya keterangan orang tua siswi FF, bahwa siswi tersebut belum melunasi tunggakan sehingga tidak diikut sertakan ujian oleh pihak sekolah.

“Sebenarnya sudah diberikan kesempatan untuk melakukan ujian susulan, dan kebijakan belum bayar sehingga tidak diperbolehkan mengikuti ujian itu tidak ada,” jelasnya.

Bagi para siswa yang belum melunasi tunggakan pembayayan tambah dia, pihak orang tua biasa di minta membuat surat perjanjian.
Dan dalam perjanjian itu, sudah banyak kebijakan – kebijakan baik dari sekolah maupun yayasan.

“Bahkan mohon maaf, tahun sebelumnya ada siswa kami yang sudah lulus pun masih memiliki tunggakan,” tuturnya.

Dedi menegaskan, meskipun siswa-siswi masih memiliki tunggakan, tetapi mereka bisa lulus. Oleh karena itu, pihaknya tidak pernah membatasi ruang gerak para siswa untuk kenaikan bahkan sampai kelulusan berkenaan dengan keuangan.

Selain itu, dirinya juga membantah soal adanya tudingan, bahwa pihak sekolah menjemput FF pada saat sedang PKL di Rumah Sakit.

“Nah, terkait penjemputan pihak sekolah terhadap siswa yang sedang PKL juga perlu diluruskan karena kejadiannya tidak seperti itu. Tetapi prosedurnya semua sekolah yang PKL itu diantar dari sekolah, sementara dia (FF-red) berangkat langsung ke tempat PKL, dan kami konfirmasi saja supaya orang tuanya datang karena belum membayar kewajibannya,” paparnya.

Sekedar informasi, masih kata Dedi, segala prosedur sudah dilakukan pihak sekolah salah satunya melakukan konfirmasi kepada orang tua siswa. Karena pihak sekolah memperlakukan semua siswa sama, tidak dibedakan.

“Teknis pelaksanaan untuk meminta tolong ke siswa untuk menyampaikan ke orang tuanya itu tetap dilakukan secara teknis pendekatan kami dan prosedur yang ada. Serta kami juga berusaha semaksimal mungkin bahwa semua kegiatan di tuntaskan oleh para siswa tanpa membedakan terutama dari segi ekonomi,” bebernya.

Dedi juga menjabarkan, terkait siswa yang menggunakan SKTM, diperlakukan sama dan tidak ada perlakuan khusus dari pihak sekolah baik dari segi proses belajar sampai kenaikan kelas bahkan kelulusan. Dari segi kebijakan sekolah dan yayasan untuk membantu siswa ini, tentu itu menjadi catatan khusus.

“Artinya, para siswa yang dari awal jelas sudah memiliki infomasi kurang mampu itu akan dijadikan data awal bagi sekolah dan yayasan untuk memberikan bantuan. Tetapi pihak sekolah dan yayasan pun memiliki keterbatasan anggaran. Oleh karena itu, kami melakukan prioritas sehingga mana yang benar – benar harus dibantu dan yang tidak,” jelas Dedi.

Padahal kebijakan sekolah sebenarnya sudah baik, bahkan orang tuanya pun sudah membuat perjanjian. Jadi, ketidaknaikan kelas siswi ini murni karena nilai dan kedisiplinan kehadiran.

“Atas dasar – dasar itulah pihak sekolah memutuskan untuk tidak menaikan kelas terhadap siswi yang bersangkutan. Sekalipun naik kelas itu bersyarat, artinya harus pindah sekolah,” tandasnya.

Sebelumnya ramai dipemberitaan sejumlah media bahwa FF (17) tidak bisa mengikuti ujian akhir semester, lantaran belum membayar tunggakan uang sekolah.

“Kami tidak tahu harus bagaimana. Kenapa sekolah sampai membiarkan seperti ini, padahal sejak FF masuk, dia pakai Surat Keterangan Tidak Mampu, red (SKTM) karena merupakan anak yatim. Tapi selalu dipersulit, sejak kelas 1, apa karena kurang biaya? Ini jadi akumulasi kekesalan kami,” ungkap Nunung yang merupakan orang tua FF kepada awak media.

Dia menceritakan, sejak awal tahun masuk ke sekolah jurusan keperawatan ini, sering mengalami tindakan tidak menyenangkan, terlebih soal biaya.

Padahal seharusnya anak tidak perlu harus tahu tentang persoalan finansial terkait biaya sekolah, agar tidak mengganggu konsentrasi siswi menuntut ilmu.

Bahkan dirinya menuding, pihak sekolah menjemput anaknya dari tempat PKL karena alasan belum melunasi biaya PKL. (As)

Komentar
Loading...