BogorOne
Akurat dan Terpercaya

Tuntaskan Soal Kemacetan, Pemkot Bogor Gandeng STTD

0 73

BogorOne | Kota Bogor – Pemkot Bogor dan Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) Kemendikbud menjalin kerjasama untuk menuntaskan persoalan kemacetan di Kota Bogor.

Kerjasama yang dilakukan berbentuk diklat pendidikan transportasi selama tiga hari, Tanggal 5 – 7 Februari 2018, dengan diikuti sedikitnya 630 peserta dari masyarakat Kota Bogor, khususnya alumni Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Diklat dilaksanakan di Kampus Universitas Ibnu Khaldun, Kota Bogor. Dihadiri Kepala BPSDM Kemenhub, Djoko Sasono; Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto dan Dirjen Dikdasmen Kemendikbud RI.

Ketua STTD Suharto mengatakan, ada delapan item diklat yang diberikan dalam kerjasama ini diantaranya diklat uji emisi gas buang, sepeda motor, orientasi angkutan jalan, keselamatan lalulintas jalan, perparkiran, pengemudi, manajemen kepengusahaan angkutan umum dan pengelasan.

“Diklat kami laksanakan tiga hari yakni 30 sampai 50 jam pelajaran,” ungkap Suharto, Senin (05/02/18)

Suharto menerangkan, diklat ini melibatkan pengajar dari dosen dan instruktur di STTD serta dosen dari Uika Bogor.

“Juga melibatkan para praktisi yang berkompeten di bidang otomotif yakni dari Astra Honda Motor. Seluruh diklat ditanggung dari APBN,” ungkapnya.

Sementara itu, Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto, dalam sambutannya mengatakan, program diklat transportasi menjadi hal penting yang harus dilaksanakan mengingat upaya penanganan kemacetan di Kota Bogor belum maksimal.

“Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menanganani masalah macet di Kota Bogor. Ini butuh peran masyarakat,” ungkap Bima Atya.

Bima Arya menerangkan, masalah utama yang menjadi perhatian adalah persoalan angkot.

“Problem utama konversi angkutan perkotaan di Kota Bogor adalah masih adanya oknum yang bermain. Ada oknum yang nyaman melihat orang lain tidak nyaman dengan macet. Oknum ini saya tidak segan-segan akan tindak tegas, siapapun itu,” kata Bima.

Soal masalah macet, Bima Arya juga menjelaskan, ada beberapa sebab diantaranya jumlah mobil yang terus bertambah di Kota Bogor.

“Ada 1000 kendaraan baru setiap minggu, sementara ruas jalan penambahannya hanya 0,1%. Pemkot tidak punya wewenang untuk itu. Rasio penggunaan kendaraan pribadi yang jauh dengan transportasi umum. Dan terakhir, persoalan tata kota yang masih perlu dirapihkan,” kata dia.

Selain manajemen, persoalan lain yang dihadapi Pemkot Bogor adalah terkait SDM. “Hanya 53 orang yang betugas di lapangan. Tahun ini ada penambahan tenaga PKWT sebanyak 140. Dan ini masih kurang,” ujarnya.

Orang nomor satu di Balaikota Bogor ini juga tak segan meminta bantuan kepada Kemenhub untuk membantu menuntaskan persoalan macet di Kota Bogor.

“Saya berharap diklat selama tiga hari ini bisa diterapkan ilmunya ke lapangan. Ini menjadi penting untuk menciptakan Bogor Bebas Macet, Bogor yang lebih nyaman dan Bogor yang teratur,” tegas Bima Arya.

Sementara, Kepala BPSDM Kemenhub, Djoko Sasono, mengatakan, diklat ini menjadi bagian dari upaya Kemenhub untuk melibatkan masyarakat dalam penanganan macet dan persoalan transportasi lainnya.

“Transportasi adalah sektor vital yang harus diperhatikan. Karena jika ada masalah di dalamnya, sektor lain akan terkena dampaknya,” ungkapnya.

Djoko menegaskan, diklat yang diikuti 630 peserta ini menjadi bukti real STTD dalam memikirkan persoalan transportasi.

“Tahun ini ada kuota 3900 SDM untuk STTD yakni penerimaan taruna transportasi. Kami berharap jumlah ini bisa naik seiring dengan kemauan pemda melakukan kerjasama,” tandasnya.*

Komentar
Loading...